Kamis, 03 Oktober 2013

product conventional cost



CONVENTIONAL PRODUCT COSTING
&
UNIT BASED COST DRIVERS
Sistem akuntansi biaya konvensional menggunakan unit / kuantitas produk yang dihasilkan sebagai dasar pembebanan. Metode pembebanan semacam inilah yang sering disebut juga Unit Based System.
Pada sistem ini biaya yang keluar maupun masuk dicatat kemudian dikumpulkan dan dikendalikan berdasarkan bagian-bagian biaya masing-masing kedalam pusat pertanggungjawaban alokasi biaya tersebut. Dengan seperti ini maka biaya-biaya produksi juga ditentukan menurut banyaknya sumber daya yang diserap oleh masing-masing pusat biaya.
·         Ada dua metode yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk yaitu:
1.      Metode Harga Pokok Penuh (Full Costing)
Memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produk yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang bersifat tetap maupun variabel.
2.      Metode Harga Pokok Variabel (Variable Costing)
Hanya memperhitungkan biaya produksi yang bersifat variabel ke dalam harga pokok produksi. Biaya tersebut meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel.

Kelemahan-kelemahan sistem akuntansi biaya konvensional yaitu:
1.      Alokasi BOP hanya menggunakan basis alokasi yang berkaitan dengan volume misalnya jam kerja, jam mesin, dan rupiah bahan yang digunakan untuk mengalokasikan overhead dari pusat biaya ke produk.
2.      Distorsi akan timbul terutama apabila jumlah biaya yang tidak berkaitan dengan volume (set-up, inspection, scheduling) relatif besar.
3.      Jika sistem akuntansi biaya konvensional tidak diubah maka akan terjadi kesenjangan antara informasi yang disediakan oleh sistem akuntansi biaya konvensional dengan informasi yang diperlukan manajemen untuk menghadapi persaingan global dan perubahan lingkungan.
4.      Penggunaan sistem akuntansi konvensional tidak dapat lagi memberikan informasi yang benar-benar dapat dipercaya dalam hal penerapannya.

Keterbatasan penentuan harga pokok konvensional terletak pada pembebanan overhead. Dalam system biaya tradisional ada dua system yaitu job order costing dan process costing. Dimana dalam kedua system tersebut gagal menentukan biaya produk secara akurat. Pembebanan biaya overhead secara individual menimbulkan masalah, yang dalam system tradisional pembebanannya dengan menggunakan metode berdasar unit (unit based) dapat menghasilkan informasi biaya yang terdistorsi.
·         Penentuan harga pokok secara konvensional untuk produk tunggal
ketepatan pembebanan biaya overhead berdasarkan unit menjadi masalah hanya jika berbagai jenis produk diproduksi dengan menggunakan 1 fasilitas. Jika hanya 1 produk yang diproduksi, seluruh biaya overhead yang terjadi disebabkan karena produk tersebut dapat dilacak pada produk itu sendiri.

Perhitungan biaya satuan untuk  produk tunggal

Biaya produksi
Unit produksi
Biaya / unit
Biaya bahan baku
Rp     600.000
10.000
Rp   60
Biaya tenaga kerja langsung
100.000
10.000
10
Biaya overhead
300.000
10.000
30
Total
1.000.000
10.000
100










·         Pembebanan produk ganda dengan cost drivers berdasar unit
Masalah yang timbul bagaimana mengidentifikasi jumlah overhead yang ditimbulkan atau dikonsumsi oleh masing-masing jenis produk.
Masalah ini dapat diselesaikan dengan mencari cost drivers atau driver biaya. Cost driver adalah factor-faktor penyebab yang menjelaskan konsumsi overhead dalam penentuan  konvensional, diasumsikan konsumsi overhead berhubungan erat dengan jumlah unit yang diproduksi yang diukur dalam jam kerja langsung, jam mesin atau jumlah harga bahan. Cost driver berdasarkan unit dibebankan pada produk melalui penggunaan tariff overhead tunggal untuk seluruh pabrik atau tariff overhead tiap departemen. Pemakaian cost driver berdasarkan unit ini mempunyai keterbatasan karena mengakibatkan informasi biaya terdistorsi.
ΓΌ  Contoh PT “X” memproduksi 2 macam produk
1.      Plastik bungkus warna putih
2.      Plastik bungkus warna biru
Data penentuan harga pokok produk


Plastic
Pembungkus


Putih
Biru
total
Produksi / tahun
20.000
100.000
120.000
Biaya utama
Rp 100.000
Rp 500.000
Rp 600.000
Jam kerja langsung
20.000
100.000
120.000
Jam mesin
10.000
50.000
60.000
Produksi berjalan
20
30
50
Jam inspeksi
800
1.200
2.000

Data
departemen


Dept 1
Dept 2
Total
Jam kerja langsung



Putih
4.000
16.000
20.000
Biru
76.000
24.000
100.000
Total
80.000
40.000
120.000
Jam mesin



Putih
4.000
6.000
10.000
Biru
16.000
34.000
50.000

20.000
40.000
60.000
BOP



Biaya penyetelan
88.000
88.000
176.000
Biaya inspeksi
74.000
74.000
148.000
Biaya listrik
28.000
140.000
168.000
Biaya kesejahteraan
104.000
52.000
156.000

294.000
354.000
648.000

·         Tarif overhead tunggal untuk satu pabrik
Jika cost driver tunggal yang dipilih adalah jam mesin, maka tariff overhead pabrik untuk tiap jam mesin adalah total BOP dibagi dengan jam mesin.
Rp  648.000
    60.000
= Rp 10.8 / jam

Perhitungan biaya per unit tarif tunggal satu PT


Plastik
pembungkus
putih
Elemen biaya
Biaya total
Jumlah
Biaya/unit
Biaya utama
Rp 100.000
20.000
Rp      5
BOP



Rp 10.8 x10.000 jm
Rp 108.000
20.000
Rp   5.4
Jumlah
Rp 208.000

Rp 10.4

Plastik
Pembungkus
biru
Elemen biaya
Biaya total
Jumlah
Biaya/unit
Biaya utama
Rp    500.000
100.000
Rp      5
BOP



Rp 10.8 x10.000 jm
Rp    540.000
100.000
Rp   5.4
Jumlah
Rp 1.040.000

Rp 10.4

·         Tarif overhead setiap departemen
Dengan menggunakan tarif departemen setiap departemen dapat dibebankan biaya produksi yang lebih akurat. Sesuai sifat departemen tersebut departemen 1 lebih baik jika menggunakan jam kerja langsung ( JKL) dan departemen 2 menggunakan jam mesin ( JM
Perhitungan tariff tiap departemen:


Tariff departemen 1 :
   Rp 294.000/80.000 jkl
         = Rp 3675/ jkl
tariff departemen 2
   Rp 354.000/40.000 jm
        = Rp 8.85/jm


plastik
Pembungkus
putih
Elemen biaya
Biaya total
Jumlah
Biaya/unit
Biaya utama
100.000
20.000
5
Dept 1



Rp 3675 x4.000
14.700
20.000
0.735
Dept 2



Rp 8.85 x 6.000
53.100
20.000
2.655
Jumlah
167.800

8.390

Plastic
Pembungkus
biru
Elemen biaya
Biaya total
Jumlah
Biaya/unit
Biaya utama
500.000
100.000
5
Dept 1



Rp 3.675 x  76.000
279.300
100.000
2.793
Dept 2



Rp 8.85 x 3.400
300.900
100.000
3.009

1.080.200

10.802
Jumlah
Rp 1.040.000

Rp 10.4

Dengan contoh diatas menyarankan bahwa bagian biaya overhead yang signifikan tidak dipengaruhi oleh banyaknya unit.
Contoh :
§   Biaya penyetelan (setup) : berhubungan dengan jumlah produksi berjalan
§   Biaya inspeksi berhubungan dengan banyaknya jumlah jam yang dipakai dalam inspeksi
§   Perlu diketahui :
§   Plastik warna biru : 30/20 = 1,5 kali produksi berjalan dibandingkan yang putih.
§   Plastik warna biru : 1,5 kali ( 1200/800) jam inspeksi
Dengan tarif tiap departemen :
Kertas biru mengkonsumsi 19 kali lipat jumlah jam tenaga kerja langsung ( 76.000/4000) dari putih dan 5,67 kali lipat jam mesin ( 34.000/6000)

·         Kegagalan cost driver berdasarkan unit
Ada 2 faktor utama menyebabkan cost driver berdasarkan unit tidak mampu membebankan BOP secara tepat.
1.      proposi biaya overhead yang tidak berhubungan dengan unit terhadap total biaya overhead
2.      tingkat diversitas produk

·         BOP tdk berhubungan dengan unit
1.      Pada contoh sebelumnya ada 4 aktivitas overhead yaitu : inspeksi, setup, kesejahteraan, tenaga listrik.
2.      Biaya setup misalnya, adalah fungsi dari jumlah produksi berjalan ( production run). Produksi berjalan merupakan cost driver yang tidak berdasarkan unit
3.      Cost drivers tidak berdasarkan unit ( non unit based cost drives) adalah faktor-faktor penyebab selain jumlah unit yang diproduksi yang menjelaskan konsumsi biaya overhead.
4.      Penggunaan cost driver yang berdasarkan unit saja untuk membebankan biaya overhead yang tidak berhubungan dengan unit dapat menimbulkan distorsi pada biaya produk.
5.      Intensitas distorsi tergantung dari berapa proporsi dari biaya yang tidak berdasarkan unit terhadap total biaya overhead.

Contoh :

Biaya setup dan inspeksi menunjukkan bagian substantial yaitu sebesar 50 % dari total biaya overhead pabrik yaitu:
(176.000 + 148.000) / 648.000 = 324.000
324.000/648.000=50% ( peraga 5.3)

jika biaya overhead yang tidak berdasarkan unit hanya merupakan prosentase yang kecil dari total biaya overhead, distorsi pada biaya produk juga akan kecil.

·         Diversitas produk
Terjadi jika dalam suatu perusahaan menghasilkan berbagai jenis produk yang mengkonsumsi aktivitas overhead dalam proporsi yang berbeda-beda. Ada beberapa alasan suatu produk mengkonsumsi overhead dalam proporsi yang berbeda maksudnya berbeda ukuran, kerumitan produk, waktu setup, ukuran batch.
Untuk menggambarkan pemakaian aktivitas oleh setiap jenis produk digunakan rasio konsumsi. Rasio konsumsi adalah proporsi dari setiap aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk.
Karena biaya overhead yang tidak berdasarkan unit merupakan proporsi yang signifikan dari total biaya overhead dan rasio konsumsi berbeda antara kategori masukan dengan dasar unit dan masukan dengan dasar non unit, maka biaya produk dapat terdistorsi jika cost driver yang digunakan hanya berdasarkan unit. Pemecahan dari masalah penentuan harga pokok ini adalah dengan menggunakan pendekatan penentuan harga pokok berdasarkan aktivitas.
Diversitas produk : proporsi konsumsi
Aktivitas overhead
Plastik putih
Plastik biru
Ukuran konsumsi
Setup
0.4 ( a)
0.6
Produksi berjalan
Inspeksi
0.4( b)
0.6
Jam inspeksi
Listrik
0.17 (c)
0.83
Jam mesin
Kesejahteraan
0.17 (d)
0.83
Jam kerja langsung
Putih : 20/50 =0.4 dan biru 30/50=0.6
Putih : 800/2.000=0.4 dan biru 1.200/2.000=0.6
Putih : 1.000/60.000=0.17dan biru 50.000/60.000=0.83
Putih : 20.000/120.000 = 0.17 dan biru 100.000/120.000=0.83
·         Penentuan harga pokok berdasar aktivitas
Adalah system yang terdiri atas dua tahap yaitu pertama melacak biaya pada berbagai aktivitas, dan kemudian ke berbagai produk. Penentuan harga pokok produk secara konvensional juga melibatkan dua tahap, namun pada tahap pertama, biaya- biaya tidak dilacak ke aktivitas melainkan ke suatu unit organisasi misalnya pabrik atau departemen-departemen. Baik pada system konvensional maupun system ABC, tahap ke dua meliputi pelacakan biaya ke berbagai produk. Perbedaan prinsip perhitungan diantara kedua metode tersebut adalah jumlah cost driver yang digunakan. Sistem penentuan harga pokok secara ABC menggunakan cost driver dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan  dengan dalam system konvensional yang hanya menggunakan satu atau dua cost driver berdasarkan unit.
Sebagai hasilnya, metode ini meningkatkan ketelitian. Namun ditinjau dari sudut manajerial, bagaimanapun juga sisten ABC menawarkan lebih dari hanya ketelitian informasi tentang biaya dari berbagai aktivitas.Pengetahuan atas biaya dari berbagai aktivitas tersebut memungkinkan para manajer untuk menfokuskan diri pada aktivitas-aktivitas yang memberikan peluang untuk melakukan penghematan biaya dengan cara: menyederhanakan aktivitas, melaksanakan aktivitas dengan lebih efisien, meniadakan aktivitas yg tak bernilai tambah, dsb.

Tahap-tahap dari penentuan harga pokok produk:

1.      Prosedur tahap pertama
Meliputi empat langkah:
a.       Penggolongan biaya
Berbagai aktivitas diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok yang mempunyai suatu interpretasi fisik yang mudah dan jelas serta cocok dengan segmen-segmen proses produksi yang dapat dikelola
b.      Mengasosiasi berbagai biaya dengan berbagai aktivitas
Menghubungkan berbagai biaya dengan setiap kelompok-kelompok biaya yang homogen ditentukan
c.       Penentuan kelompok-kelompok biaya ( cost pools) yang homogen.
Kelompok biaya homogen ( homogenius cost pool) : adalah sekumpulan biaya overhead yang terhubungkan secara logis dengan tugas-tugas yang dilaksanakan dan berbagai macam biaya tersebut dapat diterangkan oleh cost driver tunggal. Jadi agar dapat dimasukkan ke dalam suatu kelompok biaya yang homogen, aktivitas-aktivitas overhead harus dihubungkan secara logis dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk. Rasio konsumsi yang sama menunjukkan eksistensi dari sebuah cost driver.
d.      Penentuan tariff kelompok ( pool rate )
Tarif kelompok ( pool rate) adalah tariff biaya overhead per unit cost driver yang dihitung dengan rumus total biaya overhead untuk kelompok aktivitas tertentu dibagi dasar pengukur aktivitas kelompok tersebut.

Prosedur tahap pertama : Activity based costing

Kelompok 1
o   Biaya penyetelan
o   Biaya inspeksi

176.000
148.000
Biaya total kelompok 1
324.000
Produksi berjalan ( production run)
50
Tariff kelompok 1 ( biaya per produksi berjalan
Rp 6.480


Kelompok 2
o   Biaya listrik
o   Kesejahteraan karyawan



168.000
156.000
Biaya total kelompok 2
324.000
Jam mesin
60.000
Tariff kelompok 2 ( biaya per jam mesin)
Rp 5,4

2.      Prosedur tahap ke dua
Biaya untuk setiap kelompok biaya overhead dilacak ke berbagai jenis produk. Hal ini dilaksanakan dengan menggunakan tariff kelompok yang dikonsumsi oleh setiap produk. Ukuran ini merupakan penyederhanaan kuantitas cost driver yang digunakan oleh setiap produk. Jadi overheas ditentukan dari setiap kelompok biaya ke setiap produk dengan perhitungan sebagai berikut:




Biaya per unit : Activity based costing

Overhead yang dibebankan = tariff kelompok x unit-unit cost driver yang digunakan


Plastik
Putih


Total biaya
Kuantitas
Per unit
Biaya utama
100.000
20.000
Rp 5
Overhead
Kelompok 1 = Rp 6.480 x 20 PB
Kelompok 2 = Rp 5,4 x 10.000 jm

129.600
54.000

20.000
20.000

Rp 6,48
 RP 2,70
Jumlah overhead
183.600
20.000
 Rp 9,18
Jumlah biaya
283.600
20.000
Rp 14,18

Plastik
Biru


Total biaya
Kuantitas
 Per unit
Biaya utama
Rp 500.000
100.000
Rp 5
Overhead :
Kelompok 1 = Rp 6.480 x 30 PB
Kelompok 2 = Rp 5,4 x 50.000 JM

194.400
270.000

100.000
100.000

1,94
2,70
Jumlah overhead
464.400
100.000
Rp 4.64
Jumlah biaya
Rp 964.400
100.000
Rp 9.64




·         Perbandingan biaya-biaya produk
Perbandingan biaya per unit

System biaya
Pembungkus putih
Pembungkus biru
Konvensional
Tariff tunggal satu pabrik
Tariff setiap departemen

Rp 10.40
Rp 8.39


Rp 10.40
Rp 10.80
Berdasarkan aktivitas
Rp 14.18
Rp 9.64

·         PERBANDINGAN ABC DENGAN KONVENSIONAL COST

Konvensional
ABC
Overhead hanya disebabkan oleh cost drivers berdasarkan unit, maka penggolongannya hanya biaya variable dan biaya tetap. Biaya variable jumlah total bervariasi berdasarkan produk.
Sistem ABC memandang bahwa biaya overhead variable dapat dilacak dengan tepat pada berbagai produk secara individual.

·         Pemilihan cost driver
Ada dua faktor utama yang harus diperhatikan dalam pemilihan cost driver (penyebab biaya) yaitu:
a. biaya pengukuran
b. tingkat korelasi antara cost driver dengan konsumsi overhead sesungguhnya.
Dalam system ABC, sejumlah besar cost driver dapat dipilih dan digunakan. Jika memungkinkan, adalah sangat penting untuk memilih cost driver yang menggunakan informasi yang siap tersedia. Informasi yang tidak tersedia pada system yang ada sebelumnya berarti harus dihasilkan, dan akibatnya akan meningkatkan biaya system informasi perusahaan. Kelompok biaya ( cost pool) yang homogen dapat menawarkan sejumlah kemungkinan cost driver. Untuk keadaan ini, cost driver yang dapat digunakan pada system informasi yang ada sebelumnya hendaknya dipilih. Pemilihan ini akan meminimumkan biaya pengukuran. Misalnya pada contoh PT “X” diatas, dimana biaya inspeksi dan biaya setup ditempatkan  pada kelompok biaya yang sama, dan dapat memilih menggunakan jam inspeksi atau jumlah produksi berjalan sebagai cost driver. Jika informasi mengenai jam inspeksi dan produksi berjalan yang digunakan untuk kedua jenis produk yang dihasilkan perusahaan sudah tersedia dari system yang ada sebelumnya, maka cost driver mana yang dipilih dari antara keduanya tidak jadi masalah. Namun jika dianggap bahwa jam inspeksi untuk setiap jenis produk tidak dapat dilacak, dan data produksi berjalan untuk kedua jenis produk tersedia, maka produksi berjalan yang digunakan sbg cost driver.

·         PENGUKURAN TIDAK LANGSUNG DAN TINGKAT KORELASI
Sejumlah cost driver yang potensial disajikan cost driver yang secara tidak langsung mengukur konsumsi suatu aktivitas biasanya mengukur jumlah transaksi yang dihubungkan dengan aktivitas tersebut. Ingat bahwa dimungkinkan untuk menggantikan suatu cost driver yang secara langsung mengukur konsumsi dengan cost driver yang secara tidak langsung mengukurnya tanpa kehilangan akurasi, dengan syarat bahwa kuantitas dari aktivitas yang digunakan setiap transaksi kira-kira sama untuk setiap produk. Dalam kasus ini indirect cost driver yang mempunyai korelasi tinggi dan dapat digunakan.
Cost driver potensial
Jumlah setup
Jumlah jam tenaga kerja langsung
Jumlah perpindahan bahan
Jumlah pemasok
Jumlah unit yang dikerjakan kembali
Jumlah subperakitan
Jumlah order yang ditempatkan
Jumlah transaksi tenaga kerja
Jumlah order yang diterima
Jumlah unit sisa
Jumlah inspeksi
Jumlah komponen
Jumlah perubahan jadwal
Jumlah jam mesin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar